Hebatnya dirimu karena pembicaraan kita terus berjalan, walaupun pandanganmu masih saja tinggal menetap di bukumu itu. Ku akui, aku tak dapat bersikap sepertimu. Aku berbeda, karena aku akan selalu menyimak vibrasi suaramu sambil mengonfirmasi keabsahannya dari mimik wajahmu.
Hari-hari berlalu cepat. Kini...aku rindu masa lalu. Masa dimana kita untuk pertama kalinya bercengkerama berdua, masa dimana dirimu memandang mata wajahku tanpa terlihat ragu atau malu. Aku rindu pada situasi pembicaraan kita yang dulu, karena waktu itu satu jam bercengkerama serasa seperti sepuluh menit saja; karena waktu itu aku dan kamu menikmati waktu-waktu indah kita berdua.
Aku tak tahu, apa kamu menyadarinya atau tidak. Sebenarnya bahasa tubuhmu itu, mata yang tak memandang lawan bicara adalah salah satu bentuk ketidaktertarikan. Sikapmu yang seperti itu, bahkan bisa membuatku membatalkan niat bercengkerama denganmu. Pada akhirnya, bahasa tertutup itu menahanku untuk mengganggu dirimu dengan bukumu. Pada akhirnya, aku hanya memandangimu dari kejauhan sambil berharap dirimu berhenti terpaku pada bukumu itu.
Sayang, harapan itu jarang sekali terwujud
Sayang, harapanku kamu berhenti terpaku pada buku itu jarang sekali terwujud. Apa yang terjadi adalah kamu menatap dan menetap pada buku lainnya. Namun, kali ini buku yang baru dan berisi banyak ilmu, buku yang memiliki tangan pikiran dan perasaan. Aku menyebut buku itu...sahabatmu.

sama seperti yg aq rasakan...
BalasHapusMakasih untuk komentarnya andy.
BalasHapusTernyata senasib lah kita.. hha
Ikhlaskan sajalah dia..