Aku tahu kita tak akan pernah bisa untuk selalu merasa senang. Aku tahu itu, kawan. Akan ada waktu sedih. Akan ada waktu kita merasa sepi, hopeless. Namun, syukurlah itu perasaan yang tak abadi. ;)
Hey, aku tahu kerutan didahimu itu, dia berkata kau sedang resah. Mengapa bahasa tubuh ini yang sering kau tampakkan? Tak apa lah, resah hanya sementara.
Kerutan itu jelas terbaca, ditambah kepala yang menunduk dan sikap yang tertutup. Lengkap lah hipotesisku, kau sedang resah. ﴾͡๏̯͡๏﴿
Tapi, apa kau tahu apa yang kurasakan ketika aku melihatmu begitu? Sahabat (yang katanya teman sampai akhir hayat), jangan sangka empati hatiku tak berfungsi hanya karena aku laki-laki yaa. :P
Jika kau punya waktu untuk bersedih, artinya kau punya waktu untuk bergembira. Apa alasanmu? Sehingga kau lebih memilih kesedihan itu, sahabat.
Aku tak mengerti, bukankah kita ingin melewati waktu-waktu terakhir ini dengan bergembira bersama? Kegelisahanmu itu.... Hhh...My advice: Just share your sadness, then solve it. Don't repeat the same sadness again after sharing it. If you do repeat it, the sadness wont go, it just comes back around you. Got it? :D
Finally, I want you to know that I will help you if you ask me and I will pro-active-ly ask you first. You're okay? Don't be sad, just smile. :)
#Oh ya, maaf bahasanya campuran. It's because, I fell good when I use two language at once. hhe
Minggu, 13 Januari 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar