Awalnya aku menduga jika seribu hari berlalu maka tangan dan otakku akan pulih, ternyata aku keliru...sungguh keliru.
Masalah sebenarnya terletak pada diriku sendiri. Pada hati yang tak bersamaku dikala aku menarikan jemari diatas huruf-huruf alfabet ini. Pada jiwa yang setengah hati menemukan inspirasi. Masalahnya terletak pada diriku karena aku selalu terbayang paras wajahmu.
Masalah sebenarnya terletak pada diriku sendiri. Pada hati yang tak bersamaku dikala aku menarikan jemari diatas huruf-huruf alfabet ini. Pada jiwa yang setengah hati menemukan inspirasi. Masalahnya terletak pada diriku karena aku selalu terbayang paras wajahmu.
Aneh bagiku, saat teringat parasmu disaat kau tak ada didepanku. Aneh bagiku, membayangkan wajah manis itu tersenyum padaku. Aneh, karena saat itu aku terjebak hingga tak mampu berkata apa-apa. Lebih aneh lagi karena seribu hari berlalu dan hal ini masih terjadi lagi, lagi, dan lagi. Seolah memaksaku untuk mengingat pesona dirimu setiap hari. Apa ini petanda ada rasa suka yang masih tersisa dibenakku? Hipotesis sementara, IYA.
Seribu hari berlalu, tetap kau diami kalbuku. Entah berapa kali aku mencoba menjauhkan nama indahmu itu dari benakku, yang jelas sudah sering sekali ku mencoba. Tapi kamu datang kembali dengan pesona baru, lagi-lagi tak kuasa diriku untuk menjauhkan namamu dari hatiku.
Seribu hari berlalu, tetap kau diami kalbuku. Entah berapa kali aku mencoba menjauhkan nama indahmu itu dari benakku, yang jelas sudah sering sekali ku mencoba. Tapi kamu datang kembali dengan pesona baru, lagi-lagi tak kuasa diriku untuk menjauhkan namamu dari hatiku.
Sudah jelas bagi diriku, dirimu adalah inspirasi. Senyummu inspirasiku, ucapanmu inspirasiku, tingkahmu juga inspirasiku. Namun, tak mudah menuliskan semua inspirasi itu dikala hati sedang sepi....karena matamu jarang memandang mataku lagi.
...karena matamu jarang memandang mataku lagi.

0 komentar:
Posting Komentar