Rabu, 13 Februari 2013

Waktu, dengarkan aku



Buku-buku misteri hidup yang berdebu itu tergeletak diujung meja dikamar rumahku. Ia menunggu sampai waktu dimana aku mampu menopang badan untuk berdiri berjalan kesana. Namun, tak pernah kupenuhi permintaannya. Ku abaikan, ku anggap ia tak ada. Kecuali disaat fajar menjelma dan waktunya pergi ke rumah keduaku pun tiba.


Hari-hari berjalan cepat, tak peduli dengan permohonanku untuk berhenti sejenak. Tak tahukah dia bahwa aku butuh rihat? Setelah aku berkutat dengan buku-buku hidup matiku nanti, sebenarnya aku butuh rihat walaupun sekejap sambaran kilat. Namun, waktu tetap saja berjalan tanpa melihat wajah lusuhku. Ia tak melihat kebelakang, apalagi berjalan mundur.

Hal yang sama terulang lagi. Aku berharap suaraku terdengar hingga langkah waktu terhenti, bagaikan berdoa supaya fatamorgana terjadi. Walaupun "Deja Vu" yang ku lihat seringkali nyata, ku tahu "Waktu" berbeda, karena dia tak mungkin menahan langkahnya. Tidak untukku, tidak untukmu atau siapapun itu.


Because Life keeps going on, no matter what happened

Kembali malam menjemputku, berkata waktu rihatku tiba. Dipenghujung malam berbintang, kembali lagi aku memejamkan pandangan. Walaupun tak lagi melihat, aku tahu waktu terus berjalan seiringan dengan melayangnya kesadaran. Pikiranku terbang menyusuri alam bawah sadar, sampai nanti fajar menjelma untuk membangunkanku...lagi.

0 komentar:

Posting Komentar

Tag

Post (86) Galau (30) Puisi (28) Sahabat (25) Love? (21) Newest post (2)